Langsung ke konten utama

Jalan Jalan Ke Serambi Makkah


     


     
Serambi Mekkah adalah sebutan untuk salah satu daerah di Indonesia yang memiliki otonomi khusus dan sangat kental dengan nuansa Islam nya, yaitu Aceh. Saya ingin mengulas sedikit tentang perjalanan saya beberapa waktu yang lalu tepatnya bulan Agustus 2017, dimana saya untuk kedua kalinya mengunjungi Aceh. Pertama kali saya mengunjungi Aceh adalah sekitar bulan Maret 2016, waktu itu saya sengaja pergi kesana untuk mengunjungi sang tambatan hati yang memang orang Aceh. Dan kali ini, sama seperti pertama kali, dengan alas an yang sama saya mengunjunginya kembali. Tapi tenang, tulisan ini bukan soal kisah percintaan kok, jadi gak usah khawatir Baper untuk baca, hehe.

            Aceh merupakan daerah dengan sejarah yang amat panjang, bahkan pada masa kerajaan Majapahit benih benih dan cikal bakal Aceh sudah muncul. Hal ini bisa dibuktikan dengan majunya perdagangan pada masa itu mulai dari Barus, Semenanjung Malaysia, sampai ke Aceh, hingga pada akhirnya terbentuklah Kesultanan Aceh yang menjadi Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara khususnya. Konon nama Aceh merupakan singkatan dari gabungan kata Arab China Eropa Hindia, itulah sebabnya kalo misal kita berkunjung ke Aceh akan menemukan banyak orang yang sekilas identik dengan orang Eropa, Arab mulai dari warna kulit, bentuk tubuh, bahkan tak jarang ada yang memiliki warna biru pada bola matanya. Sebagai daerah otonomi khusus, Aceh memiliki keistimewaan yang berbeda dengan daerah lainnya, seperti tata Hukum, perundang undangan, sampai ke perangkat publik setempat memiliki perbedaan karena Aceh menganut konsep Syariah atau Agama Islam sebagai pedoman untuk kegiatan sehari hari. Tapi tetap, sebagai bagian dari Negara Indonesia, Aceh sangat menjunjung tinggi nilai Pancasila maupun Bhinneka tunggal Ika terlepas dari masa kelamnya yang ingin memerdekakan diri dari Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdekanya.

            Sebagai bagian dari Negara Indonesia, Aceh khususnya masyarakat Aceh memiliki jasa yang besar bagi kelangsungan Republik Indonesia ini. Dimulai dari runtuhnya Daulah Andalusia di Spanyol sekitar tahun 1492 M, Dimana Negara Eropa di pelopori oleh Raja Prancis pada waktu itu memerintahkan Portugis dan Belanda untuk menyebarkan misi 3G yaitu Gold, Glory dan Gospel. Dan sampailah Portugis pada tahun 1511 M di Malaka, dimana kedatangan Portugis dengan misinya yaitu 3G membuat semenanjung malaka khususnya Aceh sangat tidak tentram. Hal ini dikarenakan kedatangan awal Portugis bukan berniat untuk berdagang, melainkan memblokade perdagangan, hingga setiap kapal dagang Aceh yang berlayar pasti dilengkapi dengan meriam dan pasukan. Aceh merupakan kerajaan yang sangat maju pada waktu itu, dan memiliki hubungan erat dengan Kekhalifahan Turki Utsmani atau biasa di sebut Ottoman Empire. Hal ini bisa di buktikan dengan adanya kampong Turki di daerah Jaya Baru, Banda Aceh. Menurut catatan, ada 48 buah makam para guru, ustadz, petugas militer yang ditugaskan Kekhalifahan Turki Utsmani pada waktu itu. Sebagai ujung dari Negara Indonesia, dengan bantuan Turki Utsmani, Aceh berhasil mengusir para penjajah dari portugis untuk memasuki kawasan Nusantara. Dan berkat perjuangan Rakyat Aceh ini memicu perlawanan serupa mulai dari Kerajaan Ternate dan Tidore, Kesultanan Mataram, Sampai semenanjung Malaysia. Pada masa penjajahan Belanda, Aceh adalah salah satu kesultanan yang masih merdeka dan mampu bertahan dan melawan para penjajah Belanda sebelum akhirnya menyerah pada tahun 1904M. Pada masa kemrdekaan Republik Indonesia, Presiden Soekarno meminta bantuan kepada rakyat Aceh. Dari hasil sumbangan emas milik warga Aceh tersebutlah Indonesia memiliki pesawat Kepresidenan pertamanya yang di beri nama RI-001 Seulawah. (Seulawah adalah nama gunung di Daerah Aceh. Tak hanya itu, seorang saudagar Aceh bernama Teuku Markam juga menymbangkan Emas yang sekarang bisa kita nikmati dan biasa disebut Lidah Api pada Monumen Nasional atau Monas. Begitulah sejarah singkat tentng Aceh, Capek juga flashback nya, hehe.

Aceh memiliki beberapa makanan dan minuman khas, salah satunya adlah :

1.        Kopi Aceh
Kopi Aceh, siapa yang gak kenal dengan minuman satu ini. Kopi Aceh merupakan primadona dan produk unggulan di Aceh. Bahkan pabrikan Amerika sekelas Starbcks pun mendatangkan kopinya dari Aceh. Tanah yang tergolong subur membuat ciri khas tersendiri untuk tanaman ini, tak jarang banyak orang juga jatuh cinta dengan Kopi Aceh. Saya menemukan hal yang unik di Aceh. Sebagai surganya kopi, kopi sekelas Starbucks yang laku keras diluar sana ternyata masih kalah jauh disbanding dengan kopi pinggiran jalan di Aceh hehe. Gimana gak kalah, untuk harga secangkir Espresso aja tak lebih dari 10.000 rupiah, padahal kalo kita pergi ke Starbucks harganya bisa mencapai 50.000 rupiah. Terlebih soal kualitas, masih sangat jauh lebih enak Kopi Aceh. Kalo saya sih favorit yaa Kopi Sanger. Karena saya orang Jawa kalo kata papa saya “ kalo kopi ya yang enak itu ada manisnya, gak melulu pahit” itulah gambaran kopi sanger, gak pahit agak manis, walaupun manis susu. Untuk tempat kopi, sangat banyak di jumpai Café di sepanjang jalan raya Aceh. Tapi walaupun berkedok Café, harga masih kaki lima kok.

2.       Bandrek Aceh

Bandrek juga merupakan minuman khas Aceh, Bandrek adalah minuman rempah rempah yang terbuat dari campuran rempah, Susu, Telor ayam/bebek, dan jahe. Sebagai pelengkap ditaburi sejumlah kacang tanah pada bagian atas nya sebagai topping. Sekilas kalo di Jawa Timur lebih identik dengan STMJ yaitu Susu Telor Madu Jahe, salah satu minuman yang sering dijumpai di daerah Jawa Timur.Bandrek memiliki rasa yang mirip dengan STMJ cuman rasa pedas dan hangat pada badannya lebih kerasa di tambah dengan taburan kacang nya juga sangat nikmat. Tentunya dengan beberapa Kue Timphan hehe ( Kue Timpan adalah kue khas Aceh dan hanya ditemukan di aceh, rasanya susah jelasinnya. Kalo bentuknya mirip mirip Nagasari atau Lemet didaerah Malang, dibungkus daun pisang gitu )

3.       Mie Aceh

Mie yang satu ini beda dengan mie yang lainnya. Bentuknya seperti mie pada umumnya cuman memiliki diameter yang lebih besar. Dan bumbunya juga beda, berasa lebih banyak rempahnya. Kalo mau mencoba kuliner satu ini bisa pergi ke kedai Mie Ayah. Disana ada Mie Aceh Kepiting, rasanya di jamin juoss, ditambah kepiting utuh lagi. Dan jangan kesorean ya kesananya siang siang aja biar sepi hehe.

4.       Sie Kameng
Sie Kameng dalam bahasa Indonesianya mungkin Gule Kambing, karena emang lebih mirip gule, dan kameng sendiri artinya adalah kambing. Tapi yang bikin khas dan enak dan beda lagi lagi adlah rempahnya, nendang banget dilidah, daging kambing nya juga empuk dan gak bau, beda dengan gule biasanya yang bau dan keras. Konon dalam masakan ini ada beberapa biji ganjanya, tapi gak tau juga sih, yang penting bagi penderita darah tinggi jangan lupa pesan minum es timun serut yang pasti tersedia disana. Kalo penderita darah rendah nikmatin aja efek melayang karna lonjakan darah hehe.

5.       Ayam Tangkap

Ayam Tangkap ini sebenernya adalah ayam goreng biasa, tapi pada umumnya ayam yang dipakai adalah ayam kampong, makanya sedikit nendang aja rasanya. Kemudian ayam tersebut dipotong kecil kecil banget. Disajikan di piring dengan tumpukan daun, entah daun apa namanya lupa. Yang jelas kita nyari ayamnya dalam tumpukan daun tersebut. Mungkin karena itulah disebut Ayam Tangkap.

Masih banyak kuliner lainnya yang perlu di explore lagi di Aceh. Berhubung saya lupa lupa ingat makanya gak saya bahas semuanya. Di tambah lagi ada banyak tempat makan yang legendaris juga disana menjadikan pilihan semakin banyak. Pokoknya unik dah kalo soal Kuliner, banyak yang masih perlu di jelajahi.

Sebagai sebuah ibukota Provinsi, tentunya Aceh sangat banyak sekali wisata, baik wisata edukasi, maupun wisata alam, sesuai dengan wilayahnya yang berbukit dan pesisir.  Kebetulan saya 2 kali ke Aceh mainnya ke Museum, Pantai dan Pulau Weh yang terkenal dengan Kota Sabang dan 0 Kilo meter Indonesianya. Wisata modern seperti Mall, Bioskop, Kolam Renang dll sangat jarang dan khusus Bioskop pun tidak ada di Aceh. Karena sebagai daerah dengan Otonomi Islam, Pemerintah setempat tidak mengijinkan berdirinya Bioskop karena di takutkan nanti banyak anak muda yang memanfaatkan Bioskop untuk berduaan ataupun pacaran. Jadi kalo ke Aceh gausah aneh aneh yaa, travelling aja, banyak tempat oke kok. Lagian buat apa sih nonton ke Bioskop kalo Alam aja masih lebih indah dari pada film Hollywood, Lebih natural, terlebih kita bisa menikmati sembari bersyukur. Aceh menawarkan berbagai macam Wisata diantaranya sebagai berikut :

1.        Museum Tsunami

Museum Tsunami adalah sebuah bangunan yang dirancang sebagai monimen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hndia pada tahun 2004, yang sekaligus menjadi pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat jikalau terjadi bencana serupa. Museum Tsunami terletak di Kota Banda Aceh dan diresmikan pada tahun 2009, yang di arsiteki oleh Ridwan Kamil. Ada banyak sekali hal dan pelajaran ketika anda berkunjung kesini. Untuk masuk ke Museum Aceh ini anda Cuma diwajibkan membayar parker kendaraan bermotor sejumlah 2000 – 5000 rupiah saja, murah bukan . Setalah membayar parkir, anda akan melalui sebuah lorong yang di samping kanan kirinya terdapat sebuah air terjun. Memasuki lorong ini, suasana hati anda akan di bawa ke hari dimana terjadinya Tsunami Aceh tersebut, pertama saya masuk, jujur saya sangat merinding melewati lorong tersebut. Setelah melewati lorong tersebut kita akan memasuki ruangan yang di beri nama The light of God, disana anda akan mendapati banyak nama nama korban dan di bagian atas anda akan disajikan dengan lafdz Allah yang menaungi tempat tersebut. Diruangan lainnya, anda bisa mendapati benda benda peninggalan ataupun benda benda yang menggambarkan bagaimana Tsunami Aceh saat itu berlangsung. Salah satunya adalah beberapa Jam dinding yang menunjukkan pukul terjadinya Tsunami, barang barang yang menjadi porak poranda akibat terjangan Tsunami, Serta Replika kondisi pada saat itu. Selai itu diruangan lain, anda bisa menikmati sebuah mini bioskop yang memutar film documenter bagaimana Tsunami berlangsung dan sekilas saat anda memasuki mini bioskop tersebut mata anda akan dipaksa untuk menahan air yang ingin keluar dari kedua mata anda. Saya sangat terharu, diruangan tersebut, dan hampir saja pecah suasana hati saya disana. Di sudut ruangan lain anda akan menemukan sejumlah bukti bahwa banyak Negara yang membantu dalam proses evakuasi maupun pembangunan Aceh kembali. Masih banyak lagi yang belum saya gali, tentunya Museum Aceh sebagai pengingat bahwa daerah ini pernah porak poranda wajib untuk dikunjungi. Dan setelah capek berjalan jalan, keluar dari museum, anda bisa mngunjungi Blang Padang, disana banyak terdapat penjajah kaki lima yang menjual beraneka makanan dan minuman, sembari beristirahat sejenak.

2.       Museum PLTD Apung          

PLTD Apung adalah Sebuah Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel. Kapal ini adalah hasil buatan sebuah pabrik di daerah Batam Provinsi Kep. Riau. Kapal ini pada masa jayanya berhasil menangani krisis listrik di sejumlah wilayah di Indonesia, hingga pada akhirnya kapal ini singgah di Aceh yang pada saat itu Aceh juga mengalami krisis listrik. Tak seperti kapal pada umumnya, Kapal PLTD Apung ini berada ditengah perkampungan. Bayangkan ada kapal sebesar 5 bahkan 7 kali truk gandeng bersandar di perkampungan anda, tentu sangat mengerikan bukan. Ya, kapal ini posisi awalnya juga di laut seperti kapal pada umumnya, tapi pada saat terjadi Tsunami, kapal tersbut terseret ombak hingga sekitar 1km dr bibir laut. Inilah gambaran dahsyatnya Tsunami pada waktu itu, kapal sebesar itu bisa terbawa arus apalagi manusia ataupun bangunan lainnya. Kapal ini sekarang difungsikan sebagai Museum, dimana didalamnya terdapat asal asul dans ejarah kapal itu sendiri sebelum akhirnya tersapu ombak Tsunami.

3.       Lapangan Blang Padang
Lapangan Blang Padang adalah tempat berkumpulnya masyarakat Aceh. Lapangan ini difungsikan untuk berbagai macam keperluan, mulai dari olahraga, pendidikan, Wisata bahkan Kuliner, semua tersedia di tempat ini. Konon pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia, Blang padang merupakan Landasan Pacu untuk Pesawat terbang. Namun letaknya yang di tengah kota memaksa untuk mengalih fungsikannya dikarenakan keamanan dan keselamatan warga sekitar, karena juga luasnya yang tidak mumpuni untuk dianggap sebagai bandara, dan akhir nya di pindahkan menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda yang terletak di Provinsi Aceh Besar dan sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang pada tahun 1943 dengan nama asli Bandara Blang Bintang. Didalam kawasan Blang Padang terdapat sebuah monumen pesawat yang sejarahnya sangat berjasa bagi kemerdekaan Republik Indonesia dan merupakan cikal bakal perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini adalah pesawat Dakota DC-3 buatan Douglas Aircraft Company yang saat ini bertransformasi menjadi Boeing. Pesawat dengan nomor sayap RI-001 dengan nama Seulawah yang merupakan hasil sumbangan dari Rakyat Aceh kepada Presiden Soekarna pada waktu itu, sehingga terkumpul kurang lebih 20kg Emas dan di belikanlah pesawat Dakota DC-3 ini.

4.       Pantai Lampuuk

Pantai Lampuuk merupakan destinasi terkenal di daerah Banda Aceh. Dengan pasir putih dan Pepohonan Pinus yang rindang tempat ini menjadi sangat ideal untuk melepas kepenatan dari rutinitas kerja. Letaknya yang tak jauh dari pusat kota juga menambah ramainya pengunjung yang ingin hendak kesana. Namun dibalik keindahannya Lampuuk menyimpan sejumlah kenyataan yang pahit pada masa Tsunami Aceh. Lebih dari separuh penduduk Lampuuk meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Namun kini Lampuuk telah kembali bersolek dengan pariwisatanya yang berkembang secara pesat.

5.       Pantai Ulee lheue

Pantai Ulee Lheue merupakan spot yang paling cocok untuk menikmati senja, terdapat banyak puluhan pedagang kaki lima yang berniaga dan menyediakan tempat duduk untuk sekedar menikmati senja tentunya ditemani dengan Jagung Bakar, Kelapa Muda maupun aneka jajanan lainnya. Pantai ini merupakan pantai yang sangat ramai dan banyak anak muda menghabiskan waktu sore hari di Pantai ini. Selain Pantai. Ulee Lheue juga mempunyai pelabuhan yang menjadi salah satu penghubung antara Aceh menuju Pulau Weh yang terdapat Kota Sabang dan Nol Kilometernya yang terkenal.

6.       Masjid Baiturrahim

Masjid Baiturrahim adalah sebuah masjid yang menjadi saksi dahsyatnya Tsunami. Masjid ini terletak di Kawasan Pantai Ulee Lheue, Masjid ini adalah salah satu bangunan yang tidak hancur saat Tsunami melanda Aceh. Padahal, letaknya yang tergolong di daerah bibir pantai sangat tidak masuk akal kalau masjid ini bisa bertahan, terlebih sudah saya sampaikan diatas dimana Kapal PLTD Apung yang lebih besar dari Masjid Baiturrahim bisa dengan mudahnya terserat arus sejauh 1km. Selain karena Mukjizatnya yang tak hancur walau diterpa Tsunami, masjid ini juga memiliki sejarah yang sangat panjang. Tercatat, Masjid Baiturrahim adalah peninggalan Kesultanan Aceh pada Abad ke-17 dengan sebutan Masjid Jami’ Ulee Lheue. Masjid ini juga pernah di Bakar oleh Pasukan Belanda pada tahun 1873. Dan Kemudian di dilakukan proses pemugaran pada masa Hindia Belanda pada tahun 1923 dengan arsitektur baru yang amat dipengaruhi nuansa Eropa. Selain pernah dibakar oleh pasukan Belanda dan terjangan Tsunami, masjid ini juga pernah terkena musibah Banjir Bandang dan gempa Bumi. Namun Masjid ini terlihat masih kokoh hingga saat ini.

7.       Masjid Baiturrahman
Masjid Baiturrahman merupakan Masjid yang juga memiliki sejarah yang sangat panjang. Didirikan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612, Masjid ini dibakar habis pada saat penyerangan tentara Belanda pada Ekspedisinya sekitarr tahun 1877. Dan kemudian masjid ini dibangun kembali di lokasi yang sama pada tahun 1879 Oleh Tengku Qadhi Malikul Adil dan dinamai dengan Masjid Raya Kutaraja.Seiring dengan bertambahnya jamaah, masjid ini terus mengalami perombakan, tercatat pada tahun 1935, 1975, 1981, 1991. Pada saat Tsunami Aceh pada tahun 2004 masjid ini tetap kokoh berdiri dengan megahnya. Ombak Tsunami yang meluluh lantakkan bumi Aceh sungguh tak mampu menghancurkan rumah Allah ini. Pada saat itu, Masjid Baiturrahman menjadi tempat masyarakat Aceh berlindung dan evakuasi jenazah korban Tsunami. Saat ini masjid ini merupakan Primadona yang paling menonjol di Aceh. Tak banyak juga muda mudi Aceh ingin dan bermimpi melakukan akad nikah di masjid ini, katanya saking ramainya wajib untuk bookin tempat sebulan sebelum pernikahaan.


      Akhirnya sampai juga di bagian akhir, tak lengkap rasanya apabila kita berkunjung ke Aceh tanpa membawa buah tangan untuk keluarga dirumah. Untuk belanja oleh oleh Khas Aceh anda semuanya bisa untuk dating ke kawasan Hotel Medan, disana banyak terdapat Oleh Oleh Khas mulai dari Kaos, Kain, Sarung, Rencong, Kopi, Makanan dan Buanyak lainnya. Alhamdulillah, sekian ulasan dari saya mengenai Aceh dan semog ulasan ini bermanfaat bagi anda. Terimaksih

Komentar