Ku hirup aroma kopi pagiku. Tak ada aroma kopi sesesak ini pikirku. Aku lupa aku tengah menunggu kabarmu, aku menunggu jawaban pesanmu yang ku kirim pagi ini selepas bangun dari lelapnya malam. Mungkin pesan sederhana yang cenderung membosankan memang malas untukmu membaca. Tapi ada percikan rindu didalam setiap pesan yang kukirimkan. Sengaja pesan itu kukirimkan agar kamu tau ada seseorang yang merindukanmu di kejauhan. Di bentangan jarak sumatera, hanya komunikasi secara jauh yang bisa aku lakukan. Tanpa aku mengetahui secara pasti bagaimana kabarmu sesungguhnya disana. Aku percaya kamu tegar melewati apa yang menghadang. Tapi bolehkah aku mengganggu waktumu sebentar agar rindu ini terobati. Akhir akhir ini kita susah berkomunikasi. Padahal keutuhan hubungan kita selama ini adalah berkat komunikasi. Aku tak paham kenapa begitu susah aku menghubungimu, mengapa begitu susah kamu menghubungiku. Sudah lama suara kita tak saling mendengar, aku rindu saat saat kita bercanda tawa meskipun...
Hai kamu, masih pedulikah denganku? Atau aku sudah tergantikan dengan kesibukan mu? Kecapekanmu? Atau teman mainmu yang baru?. Baru kali ini kamu ucap capek tanpa ada cerita satupun, tanpa ada dering telpon satupun. Mungkin aku benar tergantikan atau aku saja yang berlebihan. Malam malamku tak lagi terhias tawamu, tak lagi terhias senyummu. Nyaring suaramu pun mungkin sudah lupa. Sisa sisa malam libur cuma aku habiskan memandang chat kita, berharap kamu online dan menyapaku. Tapi, setiap kulihat kamu online tak pernah aku baca satupun sapamu. Mungkin kamu menunggu sapaku atau kamu sedang sibuk aku tak tau. Aku selalu memperhatikanmu sejak saat sibukmu meskipun aku jarang mengirim pesan.Belakangan Aku heran ketika kamu bercerita tantang hal yang biasa kamu bagi denganku sekarang kamu ceritakan kepada orang lain. Aku terheran ketika melihat status mu tak lagi telpon ku yang dominan. Aku semakin heran tatkala telponku tak pernah lagi kau hiraukan. Aku tak peduli siapa dia, yang jel...